Sabtu, 29 Maret 2014

SATNITE

Saturday night

Satnite yang begitu panjang,
masih ku lihat raut wajah letih di jiwa lemah beliau,
tergambar jelas olehnya goresan luka pada kedua sudut lengan,
kedua ujung dalam tungkai bawah,
bekas keluarnya darah yang terbuka dikepala,
mata sayu beliau, 

Baru aku sadar,
begitu kuat nya beliau,
sampai dalam keadaan seperti itupun
beliau hanya diam dan tersenyum :')
menanti anak-anak yang beliau besarkan dengan kerja keras,
keringat kecut, tenaga usang, dengan segala daya
untuk kebahagiaan anak-anak nya

Entah mengapa,
air mata sering menetes
ketika menatap beliau terbaring lemah
dengan suntikan jarum infus dan selang di tubuhnya,
aku terlampau takut dengan imaji
yang mengingatkan aku
bahwa beliau sudah renta,
renta,
termakan waktu
lemah,
lemah terkoyak kerasnya hidup,

Sedang apa yang sudah aku perbuat? :'(
belum apa-apa
dalam do'a aku berharap,
berharap aku bisa mempersembahkan toga nanti,
terkhusus untuk beliau,
membuat beliau tersenyum bahagia,
membuat beliau merasakan buah kerja kerasnya selama ini,

Jika mampu,
aku akan terus berdo'a,
aku ingin selalu melihat senyummu orang tuaku
berada dalam setiap naungan nasehat-nasehat kalian
yang terkadang teracuhkan
namun selalu aku tunggu,

Aku ingin kalian bahagia, :') {}

Kudus Dua Puluh Delapan Maret 2014
22:44





Balada Orang-orang Tercinta :'
WS RENDRA

Kita bergantian menghirup asam
Batuk dan lemas terceruk
Marah dan terbaret-baret
Cinta membuat kita bertahan
dengan secuil redup harapan
'Balada Orang-orang Tercinta'

Kita berjalan terseok-seok
Mengira lelah akan hilang
di ujung terowongan yang terang
Namun cinta tidak membawa kita
memahami satu sama lain

Kadang kita merasa beruntung
Namun harusnya kita merenung
Akankah kita sampai di altar
Dengan berlari terpatah-patah
Mengapa cinta tak mengajari kita
Untuk berhenti berpura-pura?

Kita meleleh dan tergerus
Serut-serut sinar matahari
Sementara kita sudah lupa
rasanya mengalir bersama kehidupan
Melupakan hal-hal kecil
yang dulu termaafkan

Mengapa kita saling menyembunyikan
Mengapa marah dengan keadaan?
Mengapa lari ketika sesuatu
membengkak jika dibiarkan?
Kita percaya pada cinta
Yang borok dan tak sederhana
Kita tertangkap jatuh terperangkap
Dalam balada orang-orang tercinta


JANGAN TAKUT IBU ~ W.S. Rendra 

Matahari musti terbit.
Matahari musti terbenam.
Melewati hari-hari yang fana
ada kanker payudara, ada encok,
dan ada uban.
Ada gubernur sarapan bangkai buruh pabrik, Bupati mengunyah aspal, Anak-anak sekolah dijadikan bonsai.
Jangan takut, Ibu!
Kita harus bertahan.
Karena ketakutan
meningkatkan penindasan.

Manusia musti lahir.
Manusia musti mati.
Di antara kelahiran dan kematian
bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, 
serdadu-serdadu Jepang memanggal kepala patriot-patriot Asia, 
Ku Klux Klan membakar gereja orang Negro, 
Terotis Amerika meledakkan bom di Oklahoma Memanggang orangtua, 
ibu-ibu dan bayi-bayi, 
di Miami turis Eropa dirampok dan dibunuh, 
serdadu Inggris membantai para pemuda di Irlandia,
orang Irlandia meledakkan bom di London yang tidak aman.

Jangan takut, Ibu!
Jangan mau gigertak.
Jangan mau diancam.
Karena ketakutan
meningkatkan penjajahan.

Sungai waktu
menghanyutkan keluh-kesah mimpi yang meranggas.
Keringat bumi yang menyangga peradaban insane Menjadi uranium dan mercury.
Tetapi jangan takut, ibu!
Bulan bagai alis mata terbit di ulu hati.

Rasi Bima Sakti berzikir di dahi.
Aku cium tanganmu, Ibu!
Rahim dan susumu adalah persemaian harapan.
Kekuatan ajaib insan
Dari zaman ke zaman.

Jumat, 28 Maret 2014

Teater Satoesh

Teater yang diberdayakan di Kampus Hijau Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus ini semakin lama semakin mengembangkan bakat perkumpulan nya. Teater satoesh pada hari Senin 24 Maret 2014 baru saja melaksanakan acara pelantikan lurah teater satoesh yakni sedulur bayu kojrot ( https://www.facebook.com/menantu.ustad?ref=ts&fref=ts ) yang diadakan pada jam 18.00 malam di gedung PKM STAIN Kudus. Latihan teater satoesh sekarang diadakan hampir setiap kesempatan diluar hari latihan rutin yakni hari rabu. Tekhnik latihan dalam setiap pertemuan cukup bervariasi. Mulai dari latihan vokal, latihan olah tubuh, olah naskah, latihan musik, seni melukis, dan banyak lagi.

What's Satoesh satu tubuh satu ruh

Tapak tilas teater satoesh berawal dari munculnya kegelisahan para pencinta seni di STAIN kudus tahun 1998. pada masa sebelumnya, yakni pada saat masih menjadi IAIN Walisongo fakultas Ushuludin. sudah terdapat teater yang bernama teater Fakus. maka setelah berubah menjadi STAIN Kudus teater berubah nama menjadi teater Satoesh.
Teater Satoesh merupakan wadah bagi para pencinta seni khususnya seni teater untuk mengekspresikan diri, sesuai cita-citanya berekspresi dan berkarya menuju umat yang santun berbudaya. kreativitas dan kelebihan akting setiap mahasiswa ditampung menjadi sebuah pementasan yang menarik dan mengandung pendidikan tinggi.
Satoesh adalah sebuah keluarga bagi para seniman, karena teater satoesh bukan hanya sebuah UKM melainkan lebih daripada itu.
Jaya terus satu tubuh satu ruh

Anakmu Bukan Milikmu

Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada dirinya sendiri.
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau.
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk
Pikiranmu,
Sebab pada mereka ada alam pikiran sendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
Yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam impian.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu, sebab kehidupan
Tidak pernah berjalan mundur.
Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Dia menentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat jauh dengan cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan
Sang Pemurah,
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat.
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.



Kahlil Gibran, “Sang Nabi”

WS RENDRA
Willibrordus Surendra Broto Rendra (lahir Solo, 7 November 1935) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Semenjak masa kuliah beliau sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah. Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah.

Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya itu. Ia memulai pendidikannya dari TK (1942) hingga menyelesaikan sekolah menengah atasnya, SMA (1952), di sekolah Katolik, St. Yosef di kota Solo. Setamat SMA Rendra pergi ke Jakarta dengan maksud bersekolah di Akademi Luar Negeri. Ternyata akademi tersebut telah ditutup. Lalu ia pergi ke Yogyakarta dan masuk ke Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada. Walaupun tidak menyelesaikan kuliahnya , tidak berarti ia berhenti untuk belajar. Pada tahun 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang drama dan tari di Amerika, ia mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Ia juga mengikuti seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard atas undangan pemerintah setempat.

Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat. Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an. “Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.
Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India. Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995). Untuk kegiatan seninya Rendra telah menerima
banyak penghargaan, antara lain Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954) Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956); Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970); Hadiah Akademi Jakarta (1975); Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976) ; Penghargaan Adam Malik (1989); The S.E.A. Write Award (1996) dan Penghargaan Achmad Bakri (2006).

Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Satu di antara muridnya adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.

Ujung-ujungnya, ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Dia dinamis, aktif, dan punya kesehatan yang terjaga, tutur Sito tentang Rendra, kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia yang pernah menulis litani dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi.

Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti Rendra masuk Islam hanya untuk poligami. Terhadap tudingan tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya pada Islam sesungguhnya sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang. Toh kehidupannya dalam satu atap dengan dua istri menyebabkan Rendra dituding sebagai haus publisitas dan gemar popularitas. Tapi ia menanggapinya dengan ringan saja. Seperti saat ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!. Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati. Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti tak lama kemudian.

Karya Sajak/Puisi W.S. Rendra
Jangan Takut Ibu
Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
Empat Kumpulan Sajak
Rick dari Corona
Potret Pembangunan Dalam Puisi
Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta!
Nyanyian Angsa
Pesan Pencopet kepada Pacarnya
Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
Perjuangan Suku Naga
Blues untuk Bonnie
Pamphleten van een Dichter
State of Emergency
Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
Mencari Bapak
Rumpun Alang-alang
Surat Cinta
Sajak Rajawali
Sajak Seonggok Jagung

Referensi :

- http://biografikecil.blogspot.com/2008/03/bigrafi-ws-rendra.html

Coretan Pertama

Coretan Pertama

Entah kapan tepatnya coretan tersebut dibuat. Yang pasti coretan pertama sudah ku mulai. Belajar dari apa yang aku tak bisa, belajar dari mengenal alfabet sampai mengenal kehidupan. Itulah yang (kami) jalani. Aku menulis berkat keinginan, tanpa hal tersebut mungkin aku tak akan bisa mencoret-coret dinding blog pertamaku. Ketika aku kecil, aku berkeinginan mengenal apa yang aku lihat, apa yang mereka sebut alfabet. Ketika aku sudah mengenal alfabet, aku kembali berkeinginan untuk mengetahui apa yang mereka tulis. Rentetan huruf yang sungguh indah dan menarik. Sehingga kembali berkat 'keinginan' aku mencari tau bagaimana aku bisa menyusun rentetan huruf-huruf indah nan menarik tersebut. Alhasil aku mengenal alfabet dan megenal bagaimana aku menulisnya. 
Anggap saja aku sudah sedikit dewasa, 
karena ceritanya akan aku mulai kembali..
Setelah sedikit dewasa, (sedikit saja) aku sedikit tertarik untuk membuka sekumpulan tulisan yang disusun dalam lembaran-lembaran kertas keemasan dan dengan judul pada halaman kosong di depan tulisan tersebut. 
Tulisan yang lebih bermakna, tulisan yang tidak hanya sekedar sekumpulan huruf saja. Yang aku lihat tulisan tersebut berisi pengalaman hidup yang pernah mereka rasakan. Jatuh cinta, persahabatan, pengetahuan, keluarga, permusuhan, pertentangan, cobaan hidup, kebahagiaan yang tidak tertara.. semuanya apa yang orang-orang lalui. 
Lgai-lagi, dari hal tersebut muncullah 'keinginan' untuk mampu berproses seperti halnya mereka. Berproses bersama kehidupan, berproses dengan pengalaman, keinginan, serta tujuan. Sehingga aku akan belajar memperbarui tulisanku sebagai coretan pertama. Iya memang, coretan pertama untuk setiap hal yang berbeda. Selamat berproses :)



Salam pena
Kudus 
Dua Puluh Sembilan Maret Dua Ribu Empat Belas