HADITS
TENTANG URGENSI KEIKHLASAN DALAM SELURUH TINDAKAN DAN UCAPAN
MAKALAH
Disusun Guna
Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hadits
Dosen Pengampu
: Mufatihatuttaubah M.Pd.I
Disusun
Oleh :
Hilyatul Baidlok 1310310073
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGRI (STAIN) KUDUS
JURUSAN/PRODI
: TARBIYAH / PGMI-B
2014
BAB I
PENDAHULUAN
Sebagai seorang muslim yang baik, sudah
seharusnya kita mampu memahami Al Qur’an dan Hadits sebagai pedoman dalam
menjalani kehidupan sehari-hari. Al Qur’an berisi banyak sekali hal atau
permasalahan yang ada di dunia sekarang maupun akhirat kelak. Selain Al Quran,
hadits pun tak kalah pentingnya .
Hadits sebagai segala macam perbuatan,
ucapan, dan ketetapan yang datang dari Nabi Muhammad SAW memberi kita petunjuk
dan contoh nyata dalam menyelesaikan segala perkara. Salah satu diantaranya
adalah tentang keikhlasan dalam seluruh tindakan dan ucapan. Segala macam
kegiatan maupun ibadah tidak akan mendapatkan ridla dari Allah swt jika tidak
dilaksanakan dengan niat yang baik dan hati yang ikhlas.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apakah makna dari ikhlas?
B.
Apa contoh hadits yang menjelaskan tentang
urgensi keikhlasan dalam seluruh tindakan dan ucapan?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Ikhlas
Secara etimologis, ikhlas berasal dari akar
kata yang berarti “menjadi bersih, murni, dan bebas dari campuran”.[1] Secara
istilah, ikhlas adalah usaha seseorang melakukan perbuatan semata-mata berharap
ridha Allah swt. Aktifitas yang ikhlas harus dilaksanakan hanya karena Allah
swt. Ketika seseorang yang ikhlas mengatakan sesuatu, kata-kata itu adalah
benar dan sangat sesuai dengan pemahaman dan iman orang itu. Seperti hal nya
dengan aktifitas seseorang yang ikhlas memperlihatkan apa yang benar-benar
dirasakan dan apa adanya karena Allah swt.
Bahkan sesungguhnya ikhlas tidak sekedar murni.
Dalam beberapa ayat, al Qur’an mendeskripsikan bagaimana orang dapat dihadapkan
dengan bahaya dan kemudian kembali kepada Allah, “Mensucikan agama untuk-Nya”.
Lalu ketika bahaya itu berlalu, maka kembali kepada cara-cara lamanya. Ini
bukan merupakan ikhlas yang sebenarnya, karena tidak terus-menerus.[2]
Singkatnya, ikhlas merupakan pengekspresian
tauhid dalam diri manusia. Ini membantu menjelaskan mengapa surat ke 112 Al
Qur’an disebut surat ikhlas dan surat tawhid. Ketika manusia
menghidupkan tawhid secara utuh, maka mereka orang-orang yang ikhlas
akan mensucikan agama untuk Allah semata, dan sebaliknya Allah membantu mereka
dengan mensucikan dari keinginan atas segala sesuatu selain diri-Nya.
B. Contoh Hadits yang Menjelaskan tentang
Urgensi Keikhlasan dalam Seluruh Tindakan dan Ucapan
عَنْ أَمِيْرِ
الْمُؤْمِنِيْنَ أَبٍي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:
سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: ” إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ،
وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ
فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا
أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيهِ ” رواه
إماما المحدثين أبو عبدالله محمد ابن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبه
البخاري، وأبو الحسين مسلم بن الحجاح بن مسلم القشيري في صحيحيهما اللذيب
هما أصح الكتب المصنفة.
Dari Amirul
Mukminin Abu Hafs Umar bin Khoththtoob Rodhiyaallahu ‘anhu ia telah berkata:
Saya mendengar Rasulullah
Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya amal perbuatan tergantung
kepada niatnya, dan sesungguhnya bagi
seseorang tergantung kepada niatnya. Barangsiapa
yang hijrahnya menuju Allah
dan Rasul Nya. Barangsiapa hijrahnya menuju dunia yang akan
diperolehnya atau menuju wanita yang akan dinikahinya, ia akan mendapatkan apa
yang dituju.” )HR Imamnya Ahli Hadits Abu Abdillah Muhammad
bin Isma’il bin Ibrahim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abu Husein
Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi dalam kedua kitab shohihnya yang
merupakan kitab tershohih dari kitab kitab hadits yang ditulis(
Sanad
عن أمير
المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه
وسلم يقول
Dari
Amirul Mukminin Abu Hafs Umar bin Khoththtoob Rodhiyaallahu ‘anhu ia
telah berkata: Saya mendengar Rasulullah
Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda..
Matan
إنما
الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرىء ما نوى. فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته
إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أوإِلَى امرأة
ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه
”Sesungguhnya
amal
perbuatan tergantung kepada niatnya,
dan sesungguhnya
bagi seseorang tergantung kepada
niatnya. Barangsiapa
yang hijrahnya menuju Allah dan Rasul Nya. Barangsiapa
hijrahnya menuju dunia yang akan diperolehnya atau menuju wanita yang akan
dinikahinya, ia akan mendapatkan apa yang dituju.”
Perowi
Imamnya
Ahli Hadits Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Mughiroh bin
Bardizbah Al-Bukhori dan Abu Husein Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi
Sebab
Timbulnya Hadits
Ath-Thabarani meriwayatkan dalam
Al-Mu’jam Al-Kabir dengan para perawi yang terpercaya, dari ibnu mas’ud Radhiyallahu
Anhu, ia berkata, “Diantara kami ada seorang laki-laki yang meminang
seorang perempuan yang bernama Ummu Qais, tetapi dia menolak untuk dinikahi
hingga dia berhijrah, maka dia berhijrah dan menikahinya. Maka kami menamainya
Muhajir Ummu Qais”.[3]
Pemahaman
Hadits
1.
Disyaratkan
niat. Para ulama’ bersepakat bahwa amal yang lahir dari seorang mukallaf yang
mukmin tidak dipandang memiliki nilai ibadah dan tidak akan mendapat pahala
kecuali dengan niat.
2.
Waktu
dan tempat niat ; Waktu niat adalah pada awal ibadah, seperti takbiratul ihram
dalam sholat dan ihram dalam haji. Tempat niat adalah hati dan tidak perlu
diucapkan, tetapi disunnahkan jika hal itu dapat membantu hati dalam
menghadirkannya.
3.
Hadits
ini memberi pengertian bahwa barangsiapa yang berniat untuk beramal shaleh,
lalu ada halangan yang tidak bisa dielakkan, sperti sakit, atau meninggal, atau
yang lainnya, maka ia tetap akan mendapatkan pahala.
4.
Hadits
ini mengajarkan untuk berbuat ikhlas dalam beramal dan ibadah supaya mendapat
pahala di akhirat, serta taufik dan keburuntungan didunia.
5.
Setiap
amal yang baik dan bermanfaat jika disertai dengan keikhlasan dan mengharap
ridha Allah, maka ia akan bernilai ibadah.[4]
Analisa
Hadits
Hadits
ini termasuk hadits yang penting, yang merupakan pusat peredaran agama islam.
Ia merupakan pokok dalam agama dan kepadanya bermuara seluruh hukum syari’at.
Hal ini akan menjadi jelas dengan ucapan para ulama’. Abu Dawud berkata,
“Hadits ini (Sesungguhnya amal tergantung kepada niat) setengan islam.
Karena agama itu terbagi kepada yang tampak, yaitu amal, dan yang batin yaitu
niat. Imam Ahmad dan Asy-Syafi’i berkata, “Hadits ini merupakan sepertiga ilmu.
Sebab, seorang hamba itu akan mendapat pahala berkat perbuatan hati, lisan dan
anggota badannya, dan niat dilakukan dengan hati yang merupakan salah satu dari
ketiganya. Manfaat disebutkan hadits ini diawal kitab adalah untuk mengingatkan
para penuntut ilmu agar meluruskan
niatnya dengan hanya mencari keridhaan Allah dalam menuntut ilmu dan mengamalkan
kebaikan. Sebagaimana yang disampaikan Allah dalam firman Nya : “Mereka
tidaklah diperintah kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan ikhlas dalam
beragama lurus, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Itulah agama yang
lurus”.[5]
IV.
KESIMPULAN
1.
Pengertian
ikhlas secara etimologis, ikhlas berasal dari akar kata yang berarti “menjadi
bersih, murni, dan bebas dari campuran”. Secara istilah, ikhlas adalah usaha
seseorang melakukan perbuatan semata-mata berharap ridha Allah swt. Aktifitas
yang ikhlas harus dilaksanakan hanya karena Allah swt.
2.
Contoh Hadits yang Menjelaskan tentang
Urgensi Keikhlasan dalam Seluruh Tindakan dan Ucapan
عَنْ أَمِيْرِ
الْمُؤْمِنِيْنَ أَبٍي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:
سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: ” إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ،
وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ
فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا
أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيهِ ” رواه
إماما المحدثين أبو عبدالله محمد ابن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبه
البخاري، وأبو الحسين مسلم بن الحجاح بن مسلم القشيري في صحيحيهما اللذيب
هما أصح الكتب المصنفة.
Dari
Amirul Mukminin Abu Hafs Umar bin Khoththtoob Rodhiyaallahu ‘anhu ia telah
berkata: Saya mendengar Rasulullah
Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya amal perbuatan tergantung
kepada niatnya, dan sesungguhnya bagi
seseorang tergantung kepada niatnya. Barangsiapa
yang hijrahnya menuju Allah
dan Rasul Nya. Barangsiapa hijrahnya menuju dunia yang akan
diperolehnya atau menuju wanita yang akan dinikahinya, ia akan mendapatkan apa
yang dituju.” )HR Imamnya Ahli Hadits Abu Abdillah Muhammad
bin Isma’il bin Ibrahim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abu Husein
Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi dalam kedua kitab shohihnya yang
merupakan kitab tershohih dari kitab kitab hadits yang ditulis(
V.
DAFTAR PUSTAKA
Sachiko Murata, The
Vision Of Islam, Suluh Press, Yogyakarta, 2005
Musthafa al Bugha, Al Wafi Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi, Pustaka
al Kautsar, Jakarta Timur, 2013
Muslich Shabir, Terjemah Riyadlus Shalihin I, Toha Putra,
Semarang, 1981
[1]
Sachiko Murata, The Vision Of Islam, Suluh Press, Yogyakarta, 2005. Hal.
416
[2] Ibid. Hal.418
[3] Musthafa al Bugha, Al Wafi Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi, Pustaka
al Kautsar, Jakarta Timur, 2013. Hal.10
[4] Ibid.
Hal.11
[5] Muslich Shabir, Terjemah Riyadlus Shalihin I, Toha Putra,
Semarang, 1981. Hal.01

