Selasa, 17 Maret 2015

MAKALAH HADITS TENTANG URGENSI KEIKHLASAN DALAM SELURUH TINDAKAN DAN UCAPAN

HADITS TENTANG URGENSI KEIKHLASAN DALAM SELURUH TINDAKAN DAN UCAPAN
MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hadits
Dosen Pengampu : Mufatihatuttaubah M.Pd.I
 
@hilyajc


Disusun Oleh :    
Hilyatul Baidlok                                               1310310073

 
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGRI (STAIN) KUDUS
JURUSAN/PRODI : TARBIYAH / PGMI-B
2014




BAB I
              PENDAHULUAN
Sebagai seorang muslim yang baik, sudah seharusnya kita mampu memahami Al Qur’an dan Hadits sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Al Qur’an berisi banyak sekali hal atau permasalahan yang ada di dunia sekarang maupun akhirat kelak. Selain Al Quran, hadits pun tak kalah pentingnya .
Hadits sebagai segala macam perbuatan, ucapan, dan ketetapan yang datang dari Nabi Muhammad SAW memberi kita petunjuk dan contoh nyata dalam menyelesaikan segala perkara. Salah satu diantaranya adalah tentang keikhlasan dalam seluruh tindakan dan ucapan. Segala macam kegiatan maupun ibadah tidak akan mendapatkan ridla dari Allah swt jika tidak dilaksanakan dengan niat yang baik dan hati yang ikhlas.

    II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Apakah makna dari ikhlas?
B.     Apa contoh hadits yang menjelaskan tentang urgensi keikhlasan dalam seluruh tindakan dan ucapan?


 III.            PEMBAHASAN
A.    Pengertian Ikhlas
Secara etimologis, ikhlas berasal dari akar kata yang berarti “menjadi bersih, murni, dan bebas dari campuran”.[1] Secara istilah, ikhlas adalah usaha seseorang melakukan perbuatan semata-mata berharap ridha Allah swt. Aktifitas yang ikhlas harus dilaksanakan hanya karena Allah swt. Ketika seseorang yang ikhlas mengatakan sesuatu, kata-kata itu adalah benar dan sangat sesuai dengan pemahaman dan iman orang itu. Seperti hal nya dengan aktifitas seseorang yang ikhlas memperlihatkan apa yang benar-benar dirasakan dan apa adanya karena Allah swt.
Bahkan sesungguhnya ikhlas tidak sekedar murni. Dalam beberapa ayat, al Qur’an mendeskripsikan bagaimana orang dapat dihadapkan dengan bahaya dan kemudian kembali kepada Allah, “Mensucikan agama untuk-Nya”. Lalu ketika bahaya itu berlalu, maka kembali kepada cara-cara lamanya. Ini bukan merupakan ikhlas yang sebenarnya, karena tidak terus-menerus.[2]
Singkatnya, ikhlas merupakan pengekspresian tauhid dalam diri manusia. Ini membantu menjelaskan mengapa surat ke 112 Al Qur’an disebut surat ikhlas dan surat tawhid. Ketika manusia menghidupkan tawhid secara utuh, maka mereka orang-orang yang ikhlas akan mensucikan agama untuk Allah semata, dan sebaliknya Allah membantu mereka dengan mensucikan dari keinginan atas segala sesuatu selain diri-Nya.




B.     Contoh Hadits yang Menjelaskan tentang Urgensi Keikhlasan dalam Seluruh Tindakan dan Ucapan
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبٍي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: ” إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيهِ ” رواه إماما المحدثين أبو عبدالله محمد ابن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبه البخاري،  وأبو الحسين مسلم بن الحجاح بن مسلم القشيري في صحيحيهما اللذيب هما أصح الكتب المصنفة.
Dari Amirul Mukminin Abu Hafs Umar bin Khoththtoob Rodhiyaallahu ‘anhu ia telah berkata: Saya mendengar Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya amal perbuatan tergantung kepada niatnya, dan sesungguhnya bagi seseorang tergantung kepada niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya menuju Allah dan Rasul Nya. Barangsiapa hijrahnya menuju dunia yang akan diperolehnya atau menuju wanita yang akan dinikahinya, ia akan mendapatkan apa yang dituju.)HR Imamnya Ahli Hadits Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abu Husein Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi dalam kedua kitab shohihnya yang merupakan kitab tershohih dari kitab kitab hadits yang ditulis(
Sanad
عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول
Dari Amirul Mukminin Abu Hafs Umar bin Khoththtoob Rodhiyaallahu ‘anhu ia telah berkata: Saya mendengar Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda..
Matan
إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرىء ما نوى. فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أوإِلَى امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه
Sesungguhnya amal perbuatan tergantung kepada niatnya, dan sesungguhnya bagi seseorang tergantung kepada niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya menuju Allah dan Rasul Nya. Barangsiapa hijrahnya menuju dunia yang akan diperolehnya atau menuju wanita yang akan dinikahinya, ia akan mendapatkan apa yang dituju.”
Perowi
Imamnya Ahli Hadits Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abu Husein Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi
Sebab Timbulnya Hadits
            Ath-Thabarani meriwayatkan dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dengan para perawi yang terpercaya, dari ibnu mas’ud Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Diantara kami ada seorang laki-laki yang meminang seorang perempuan yang bernama Ummu Qais, tetapi dia menolak untuk dinikahi hingga dia berhijrah, maka dia berhijrah dan menikahinya. Maka kami menamainya Muhajir Ummu Qais”.[3]
Pemahaman Hadits
1.      Disyaratkan niat. Para ulama’ bersepakat bahwa amal yang lahir dari seorang mukallaf yang mukmin tidak dipandang memiliki nilai ibadah dan tidak akan mendapat pahala kecuali dengan niat.
2.      Waktu dan tempat niat ; Waktu niat adalah pada awal ibadah, seperti takbiratul ihram dalam sholat dan ihram dalam haji. Tempat niat adalah hati dan tidak perlu diucapkan, tetapi disunnahkan jika hal itu dapat membantu hati dalam menghadirkannya.
3.      Hadits ini memberi pengertian bahwa barangsiapa yang berniat untuk beramal shaleh, lalu ada halangan yang tidak bisa dielakkan, sperti sakit, atau meninggal, atau yang lainnya, maka ia tetap akan mendapatkan pahala.
4.      Hadits ini mengajarkan untuk berbuat ikhlas dalam beramal dan ibadah supaya mendapat pahala di akhirat, serta taufik dan keburuntungan didunia.
5.      Setiap amal yang baik dan bermanfaat jika disertai dengan keikhlasan dan mengharap ridha Allah, maka ia akan bernilai ibadah.[4]
Analisa Hadits
Hadits ini termasuk hadits yang penting, yang merupakan pusat peredaran agama islam. Ia merupakan pokok dalam agama dan kepadanya bermuara seluruh hukum syari’at. Hal ini akan menjadi jelas dengan ucapan para ulama’. Abu Dawud berkata, “Hadits ini (Sesungguhnya amal tergantung kepada niat) setengan islam. Karena agama itu terbagi kepada yang tampak, yaitu amal, dan yang batin yaitu niat. Imam Ahmad dan Asy-Syafi’i berkata, “Hadits ini merupakan sepertiga ilmu. Sebab, seorang hamba itu akan mendapat pahala berkat perbuatan hati, lisan dan anggota badannya, dan niat dilakukan dengan hati yang merupakan salah satu dari ketiganya. Manfaat disebutkan hadits ini diawal kitab adalah untuk mengingatkan para penuntut ilmu  agar meluruskan niatnya dengan hanya mencari keridhaan Allah dalam menuntut ilmu dan mengamalkan kebaikan. Sebagaimana yang disampaikan Allah dalam firman Nya : “Mereka tidaklah diperintah kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan ikhlas dalam beragama lurus, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus”.[5]

 IV.            KESIMPULAN

1.      Pengertian ikhlas secara etimologis, ikhlas berasal dari akar kata yang berarti “menjadi bersih, murni, dan bebas dari campuran”. Secara istilah, ikhlas adalah usaha seseorang melakukan perbuatan semata-mata berharap ridha Allah swt. Aktifitas yang ikhlas harus dilaksanakan hanya karena Allah swt.
2.      Contoh Hadits yang Menjelaskan tentang Urgensi Keikhlasan dalam Seluruh Tindakan dan Ucapan
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبٍي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: ” إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيهِ ” رواه إماما المحدثين أبو عبدالله محمد ابن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبه البخاري،  وأبو الحسين مسلم بن الحجاح بن مسلم القشيري في صحيحيهما اللذيب هما أصح الكتب المصنفة.
Dari Amirul Mukminin Abu Hafs Umar bin Khoththtoob Rodhiyaallahu ‘anhu ia telah berkata: Saya mendengar Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya amal perbuatan tergantung kepada niatnya, dan sesungguhnya bagi seseorang tergantung kepada niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya menuju Allah dan Rasul Nya. Barangsiapa hijrahnya menuju dunia yang akan diperolehnya atau menuju wanita yang akan dinikahinya, ia akan mendapatkan apa yang dituju.)HR Imamnya Ahli Hadits Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abu Husein Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi dalam kedua kitab shohihnya yang merupakan kitab tershohih dari kitab kitab hadits yang ditulis(



    V.            DAFTAR PUSTAKA

Sachiko Murata, The Vision Of Islam, Suluh Press, Yogyakarta, 2005
Musthafa al Bugha, Al Wafi Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi, Pustaka al Kautsar, Jakarta Timur, 2013
Muslich Shabir, Terjemah Riyadlus Shalihin I, Toha Putra, Semarang, 1981



[1] Sachiko Murata, The Vision Of Islam, Suluh Press, Yogyakarta, 2005. Hal. 416
[2] Ibid. Hal.418                               
[3] Musthafa al Bugha, Al Wafi Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi, Pustaka al Kautsar, Jakarta Timur, 2013. Hal.10
[4] Ibid. Hal.11
[5] Muslich Shabir, Terjemah Riyadlus Shalihin I, Toha Putra, Semarang, 1981. Hal.01

Senin, 14 April 2014

HUJAN

Putih Abu-abu :*

Semasa 'ia' datang kembali

Hujan selalu membawa kisah, 
dimana ingatan ber-angan ke masa yang tak terlupa,
hembusan angin,
bau air tanah,
dingin menusuk tulang,
semuanya persis dengan masa itu,

Masa saat tetes air mata jatuh bersama air hujan,
Masa saat tertawa lepas bersama yang tersayang,
Masa saat terjebak dilorong sekolah,
Semuanya persis dengan masa itu,

Entah nuansa apa yang kan datang esok
yang pasti,
Hujan selalu membawa kisah yang berbeda

Salahkah rindu yang datang bersamanya,
Salahkah isak tangis yang sering tak terbendung lagi,
Lantaran kini,
Aku dan kalian yang ku rindu tak bersama :'(



#April

Minggu, 06 April 2014

Terasing Dari Dinding

Mengapa engkau mondar-mandir pada altar gedung hijau
Apa engkau heran begitu banyak gedung tinggi yang menjulang
Apa engkau tak mampu memposisikan jiwamu?
Saat ku sentuh dirimu dengan sebatang lidi,
Kau tersipu malu
Lalu, enkau menjauh tanpa berpaling muka
#ular bulu yang ku jumpai saat duduk di gedung i STAIN Kudus

Zaki Annafis